Pengertian Fetisisme Transvestis

Latar Belakang

Pengertian Fetisisme Transvestis adalah gangguan yang ditandai oleh laki-laki hetero seksual yang mengenakan pakaian perempuan untuk mencapai kepuasan seksual (kamus kesehatan.com). Gambaran tentang gangguan Fetisisme Transvestis, bila seorang laki-laki mengalami gairah seksual dengan memakai pakaian perempuan, meskipun ia tetap merasa sebagai laki-laki, kondisi ini disebut transvestic fetishism.

TransvestisPraktik transvestik bervariasi, dimulai dari memakai pakaian dalam perempuan dibalik pakaian konevensional hingga memakai pakaian perempuan lengkap. Beberapa transvestit menyukai muncul didepan umum sebagai perempuan; beberapa peniru penampilan perempuan tersebut menjadi artis panggung diklub-klub malam, memberikan kesenangan bagi banyak orang yang konvesional dalam hal seks dengan menonton terampil. meskipun demikian, kecuali bila memakai pakaian lawan jenis berhubungan dengan gairah seksual, para peniru tersebut tidak dianggap transvestik.

Tinjauan Teoritis

Fetisisme transvestic didiagnosis pada pria heteroseksual yang mengalami “berulang, fantasi seksual membangkitkan intens, dorongan seksual, atau perilaku yang melibatkan cross-dressing” (American Psychiatric Association, 1994).

Transvestic fetishism didefinisikan oleh buku pegangan kesehatan mental profesional, Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, edisi keempat, revisi teks (2000), yang juga disebut DSM-IV-TR, sebagai salah satu parafilia. Para parafilia adalah kelompok gangguan mental yang ditandai oleh obsesi dengan praktik seksual yang tidak biasa atau dengan aktivitas seksual yang melibatkan nonconsenting atau mitra yang tidak pantas (seperti anak-anak atau hewan).

Kesimpulan

TransvestisTransvestic Fetihism banyak ditemukan bahwa pada masa kanak-kanak, penderita gangguan tersebut adalah laki-laki. Kebanyakan dari mereka adalah yang menjadi korban penolakan orang tua, terutama oleh sosok ibu. Disaat melihat saudara perempuan mendapat perhatian lebih yang membuat penderita Transvestic Fetihism merasa nyaman bila ia bisa memakai pakaian saudara perempuannya.

Orang dengan fetishes transvestic tidak boleh dianggap homoseksual. Menurut DSM-IV-TR,  kebanyakan  pria yang berlatih cross-dressing pada dasarnya heteroseksual dalam orientasi mereka. Beberapa memiliki hubungan seksual dengan pria lain sesekali.

Dasar untuk fetish transvestic adalah  mendapatkan kepuasan seksual dengan berpakaian dalam yang tepat untuk lawan jenis. Penyebabnya mungkin rasa ingin tahu remaja. Seseorang dengan fetish transvestic mungkin tidak menyadari akar-akarnya. Fetisisme transvestic kadang-kadang dimulai ketika anak muda mencoba memakai baju dari  kakak atau  ibunya. Kegiatan  dilanjutkan  karena itu menyenangkan tetapi alasan untuk kenikmatan tetap tak sadar.
Kasus penderita gangguan fetisisme transvestis sangat jarang diungkap karena sangat sedikit sekali penderita gangguan tersebut mau bercerita tentang dirinya, menurut teori kondisioning klasik, Banyak penderita gangguan fetisisme transvestis yang dianggap sebagai keterampilan  yang tidak memadai atau penguatan oleh orang tua atau kerabat terhadap ketidak wajaran perilaku. Contohnya riwayat kasus transvestite seringkali mengungkapkan insiden dimasa kanak-kanak dimana pada masa itu sering kali dipuji dan diperhatikan secara berlebihan karena terlihat lucu memakai pakaian saudara perempuannya.

Penderita gangguan fetisisme transvestis ini dapat disembuhkan dengan beberapa cara yaitu:

  1. Terapi kognitif-perilaku: Seperti terapi kebencian, sering digunakan untuk mengobati parafilia. Stimulus membangkitkan dipasangkan dengan stimulus aversif seperti shock atau bau berbahaya sampai perilaku paraphilic tidak lagi menghasilkan gairah seksual.
  2. Intervensi farmakologis: Dengan menggunakan suplemen, hormon atau obat yang meliputi suplemen hormon atau obat-obatan psikotropika. Pengobatan hormonal ini dirancang untuk menghambat perilaku seksual menyimpang dengan mengurangi dorongan seksual dan gairah seksual.
  3. Dukungan keluarga atau orang terdekat: Tak dapat dipungkiri, penderita gangguan ini terbentuk akibat dari perasaan terbuang dari keluarga terutama ibu, terapi apapun akan sama saja hasilnya jika tanpa dukungan dari keluarga dan orang terdekat, keluarga harus menujukkan penerimaan terhadap penderita, bahwa penderita gangguan tersebut diterima dikeluarganya terutama ibu.